apa ya ???? kok jadi ngawur bin ancurr ini orang lagi nulis ?? abis
menari sufi ya ???
………………
ini cuman pendapat gue.
.
kalo dipikir2, hidup itu penuh kesibukan ya .
bahkan, yang tidak pernah sibuk pun, dia juga berusaha nampak ’sibuk’.
ya wajarlah, gue bilang pada gue sendiri.
setiap orang, pada dasarnya ingin diperhatikan.
makhluk sosial, kata pakar, selalu mencari cara agar menjadi orang yang
dibutuhkan dan membutuhkan.
ada yang melayani, ada yang dilayani.
ada yang mencari, ada yang dicari.
ada yang mengabaikan, ada yang diabaikan.
.
.
memandang kehidupan
pada wajahmu sayang
kulihat bayang peradaban
mengkilat pada peluh di dahimu
kamu pernah ngebut ??
ada banyak rokok yang dijual di pinggir jalan.
dad
spas
mereknya yalah Gudang Garam, Marlboro, A-Mild, and dJarum.
itu yang besar. Kalo yang kecil, ada Kerbau, Caping Gunung, atau Kretek
tapi jujur aja, gue belon pernah ngerokok. nyoba aja enggak.
cuman ngisep doank, itu kalo udah ga bisa nolak asap yang berseliweran
di hidung gue. dan kebanyakan, gue ngisep di angkuta. kereta. aspal.
lha, terus, ada apa dengan rokok ??
banyak. yang jelas, rokok itu manfaatnya ada lima :
spasi
spasi
menunjukkan kelas sosial. semakin tinggi kelasnya, semakin mahal
rokoknya. Cerutu Kuba misalnya.
spasi
memamerkan wibawa. tukang becak, pengangguran, bahkan
anggota DPR, merokok dan menampilkan mereknya dengan tanpa dosa.
buat vitalitas. katanya, enggak ngerokok bikin hilang semangat kerja
kalo orang bekerja di pabrik rokok, bisa menambah uang buat belanja
istrinya.
spasi
spaso
menyumbang pendapatan negara dan media cetak/elektronik secara
besar. coba bayangkan kalo pabrik rokok tutup. Jaman Rodi akan
berulang.
spasi
spasi
kalo ruginya mah banyak. tapi biar dokter Boyke aja yang bilang.
and terus terang, MUI boleh kok buat fatwa rokok. Itu supaya legal
dari sisi agama. kalo di-nalar, cukup Peraturan Pemerintah saja
yang mengurus rokok, jadi fatwa MUI itu, menurut saya pribadi,
hanya menegaskan, bukan mengatur.