Skip to content

bosen-liat-krisis-2008.

Oktober 17, 2008

sudah setengah bulan, sejak Krisis Kredit Perumahan Amerika termuat di surat kabar. di koran Republika, di koran JawaPos, di koran Kompas, di Media Indonesia, di SOLOPOS, di mana lagi ya … pokoknya, hampir semua koran memuat berita tentang krisis Amerika ini, dan pengaruhnya ke semua perekonomian seluruh negara di dunia. Banyak cerita (dan fakta tentunya) tentang bagaimana index saham, value perbankan, block sekuritas, dan return investasi kacau balau.

Indonesia sampai kena getahnya. rendahnya transaksi di lantai bursa sampai total HANYA 1 triliun rupiah (padahal duit segede itu bisa buat makan orang miskin se-kota), membuat pasar modal ditutup untuk tiga hari (Sabtu-Minggu mana ada hari kerja buat PNS Indonesia). tidak hanya itu. ekspor udang dan kerajinan (handycraft) berkurang, sekitar 20% dan hampir 50% dari order normal. hebat betul, imbasnya si Amerika ini. padahal, yang kena kasus adalah di sono, tapi kenapa yang menderita malah di sini ?? ndak habis pikir gue. ..

untung, pemerintah cepat bertindak. mengadakan rapat, dan hasilnya, 10 usulan (himbauan/perintah/ajakan ?) SBY untuk pelaku pasar modal. itu usulan yang bagus. tapi, buat gue yang udah pakar ngerumpi ini  😀  bahasa yang dipakai SBY itu kuno, udah sering gue denger. hampir sama seperti yang pernah dipakai oleh MenPen OrdeBaru dulu. tidak ada istilah khusus, tidak ada kata-kata berbahasa asing, dan sepertinya , memang ajakan. tidak terdengar seperti perintah, jika kalimatnya dibacakan.  bagus deh.

okay.. kalau krisis Amerika ini, denger-denger sebabnya adalah penumpukan utang dari kredit macetnya kaum miskin. dan sudah terjadi selama hampir 30 tahun sejak diumumkan. Nah, dalam kredit, biasanya ada bunga juga, (karena bukan model syariah,melainkan konvensional). ketika bunga dinaikkan, kredit pun ikut naik. utangnya ikut naik. ketika jatuh tempo harus bayar, yang miskin tidak kuat bayar. utang itu semakin besar, karena banyak perusahaan ikut terlibat dalam ‘permainan angka’ ini. karena nilai kredit terlalu tinggi, akhirnya banyak yang bangkrut karena tidak mampu bayar kredit. walhasil, itulah, paling tidak, yang terjadi 7Okt08 lalu.

gimana Indonesia ? kita enak banget make kredit. mintanya juga mudah. yang saya tahu, kalo punya fotokopi identitas, +fotokopi kartu keluarga, +foto diri juga, tinggal di bawa ke tempat pendaftaran kredit (bisa bank/mall). tunggu 1 minggu, kiriman datang. Pakai buat beli, apa saja.

Nah, ketika jatuh tempo bayar .. tinggal hitung nilai kredit ditambah bunga (gitu ya ?). Kalau orangnya yang pemboros, tapi punya simpanan, oke. masalah bayar, kecill (njentikkan ibu jari).  tapi kalo pas-pasan, maunya gede ?? Paling-paling, rumah tinggal akan disita bank, dan orangnya cuma dapat leleran asin dari mata dan liur dari hidung  😀  . orangnya .. masuk bui.

apa yang harus dilakuin ??? gue pikir,, hindari asuransi, bayar lunas, dan .. simple ajah. kagak perlu beli barang berbobot. apalagi yang segede kulkas,  atau malah pesawat terbang. plus, kata Safir Senduk, hindari pengeluaran berlebih. kata ‘mbak Selvi’, kasir bank yang cantik itu .. “Simpan saja uang Mas disini, kami bantu mengembangkannya”. Nggak Repot kan ??  😀

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: