Skip to content

Idul Adha: Duit Sekantong dan Kelaparan yang Semu

Desember 8, 2008

Sebenarnya, judul diatas salah. Pinginnya adalah judul yang

mencerminkan kaitan antara pemaknaan Idul Adha, virus kemiskinan

yang makin mengganas, dan tentang kualitas dari pengorbanan

ke-“binatang”-an ini.

spasi
spasi

Kita, besok (ketika saya mengetik posting ini) akan menyambut tamu besar dari Allah swt. Tamu yang mulia, tamu yang dengan kehadirannya membuat kita berharap akan mendapatkan amal jariyah dan pahala yang maha besar dari-Nya. Tamu yang paling dinanti – nanti oleh semua umat Manusia yang Muslim, baik Muslim yang menunaikan haji di Arafah, maupun Muslim yang sedang menunggu giliran untuk mendapat tiket ‘ bebas visaย  ๐Ÿ™‚ย  ‘ tahun depan dan mungkin mendapatkan uang saku dari Pemerintah Arab Saudi (hahaha .. Insya ALLAH) setelah tamu yang agung, sebulan dari dua belas bulan telah meninggalkan Muslim yang menyambutnya dengan sepenuh jiwa mereka.

Tamu itu adalah Idul Adha.
spasi
Adalah penting untuk mengatakan, begitu besarnya sambutan untuk Idul Adha. Kita, secara umum(tanpa memandang SARA) telah begitu akrab dengan Idul Adha. Begitu lekatnya masyarakat Indonesia (dan mungkin dunia) pada hari ini, sehingga saya tidak salah kalo bilang, Idul Adha adalah BUDAYA NASIONAL RI. Event dimana semua orang dari bermacam usia, status, dan jenis kelamin begitu bergembira.

spasi
spasi

Idul Adha, adalah hari dimana kita bersyukur atas nikmatNya dengan hewan kurban. Idul Adha, bisa dikatakan identik dengan hari pengorbanan. (mungkin) kisahnya bermula dari perintah Allah kepada Nabi Adam untuk memberitahukan kepada Habil dan Qabil supaya memberikan hasil bumi yang terbaik kepadaNya sebagai bukti dan syarat untuk menikahi Iqlimah,saudara kembarnya Qabil.
Habil memberikan hasil bumi terbaik, sedangkan Qabil memberi hasil bumi terjelek. ternyata yang diterima adalah punya Habil. Qabil balas dendam, dan membunuh Habil, pembunuhan manusia pertama (sejak bumi terbentuk) yang terukir dalam sejarah. Qabil sendiri akhirnya menghilang.

spasi
spasi

Tapi cerita sebenarnya, dan paling banyak dikisahkan oleh tetua kita, adalah Idul Adha terjadi karena datang perintah Allah swt, kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, Ismail (waktu itu belum menjadi Nabi lho). Nabi Ibrahim mendapat petunjuk itu lewat mimpi, yang membuat beliau terbangun berkali2 dan shalat+berdoa berulang2,sebelum akhirnya yakin itu adalah benar wahyuNya.

spasi

Nabi Ibrahim sangat ragu untuk melaksanakan perintah itu. Tetapi Ismail pun menghibur bapaknya, dan berkata bahwa ia IKHLAS untuk disembelih. Lalu Nabi Ibrahim melaksanakan perintah itu sambil memejamkan mata, dan ketika golok sampai ke batas keras di bawah leher, beliau melihat tubuh kambing terpisah dari kepalanya. Beliau pun tambah bersyukur atas nikmatNya itu.

spasi

Jujur saja, terus terang, saya udah bosan diceritain gitu2an sama tetua kiyai, soalnya udah ada bejibun buku2yang bisa dibaca. Tidak perlu denger kata berpanjang2 dan mendayu2 mengantar tidur sampai nyenyak.. Itu ‘dongeng’ udah basi.(Namanya anak muda, keren donk .. Jakarta Undercover lebih kena di batok kepala ketimbang Cerita 25 Nabi dan Rasul .. ) tapi terima ajah, abis bisa dikutuk kayak si Malin itu ,, malu donk sama cewek .. :mrgreen:

spasi

Okay, gue ngelantur ,,ย  ๐Ÿ˜€ย  Makna Idul Adha, tidak bergeser sampai detik ini. Idul Adha adalah moment untuk meningkatkan rasa syukur dengan menyembelih kambing/sapi/kerbau(?). Tidak satu, dua, tiga, tapi sebanyak2nya. Semakin banyak uang, semakin banyak hewan siap dipancung. Dan segala amal tergantung pada niat. Yang banyak uang tadi, jika perseorangan, pasti ada banyak niat, mungkin pingin dikenal, ikhlas tapi disangka pamer, dan sungguh – sungguh dermawan,saya tidak ingin spekulasi, maaf. Jika itu sumbangan, dari umat kepada masjid, itu lebih baik dan mulia, karena tujuannya adalah

membantu meringankan beban pengurus masjid.

spasi

Sebulan sebelum Idul Adha, selambat2nya, pasti ada rencara untuk meninjau ke lokasi peternakan. Dimana ??? Ya di desa, atau di pinggir kota. Kenapa nyari di sana ?? Ya IYALAH .. enggak ada orang kota yang mau satu atap dengan hewan yang bau itu. Orang kota yang ekstrim suka ular, buaya. Orang kota yang penyayang suka pelihara kucing, atau anjing. Ada yang suka ayam, bebek, dan ikan hias kali ๐Ÿ™‚ Nah, harga hewan kurban ?? Variasi, tergantung ukuran dan profil itu hewan.

spasi

Juga rekam medis hewan ala wong ndeso ๐Ÿ˜€ ditambah kesaksian petugas
pemeriksaan hewan/dokter, dan calon pembeli. Kambing : kecil dihargai 400rb, Sedang 700 rb, dan Besar >= 1 juta rupiah. Kalo Sapi, gemuk dan sehat, putih mulus lagi ๐Ÿ˜€ dihargai maksimal 9 juta rupiah. Itu yang aku tahu dari ‘wiwinciri’ย  dengan Tim Pembeli Hewan dan brosur lembaga pengantar hewan. Dapat diantar ke tempat +- 1 hari, dan Jaminan Sehat, Murah Mudah dan Aman.

spasi

Ah, kalo gue bilang panjang2, akhirnya juga ga etis lah ..kesimpulannya,

spasi

Peternak dari desa/pinggir kota UNTUNG ย‘BESARย’ dengan menjual hewan ternak kambing/sapi/kerbau jika terbukti SEHAT dan AMAN dari PENYAKIT.

spasi

Pembeli untung karena hewan yang akan dikurban tidak SAKIT2AN dan SIAP MENTAL untuk diMUTILASI.

spasi

Petugas Pemeriksa Hewan/Dokter untung karena mereka terlibat langsung dengan kontak kepada hewan, sehingga meeka tahu banyak. Dan tentunya tidak kena marah dari Gubernur ๐Ÿ™‚ yang kena tegur dari DEPKES dan MENKES karena di daerahnya ada penyakit Chikunguya .. eh, Kaki dan Mulut, gitu loh ..

spasi

Penerima Daging pun untung, karena daging kurban yang mereka masak dan makan ‘dijamin’ tidak akan kena penyakit pada perut yang mematikan.

spasi

Yang tidak dapet untung, mungkin cuma sopir, dan petugas SPBU. Mereka harus bawa rokok, dan buwat beli bensin nombok lagi.

spasi

Tetapi .. sayangnya, tradisi ini berlaku sempit. Kalo di tempat longsor (dan terisolasi), mereka tidak dapat akses ke jalan. Tidak ada daging kurban sampai ke tempat mereka lewat darat. Yang ada di daerah banjir, mungkin agak beruntung, karena tidak basah amat, dan dagingnya masih bisa dimasak dan dimakan.
kalo yang di daerah Lapindo …. lebih enak lagi. Biarpun masih susah, tidak perlu khawatir. Jalanan tidak kena lumpur, dan hewan kurban bertebaran di sekitar mereka.

spasi

Nah, karena ada jalanan yang rusak dan dan pikiran masyarakat yang masih sempit, maka wajar saja kalo terjadi kesenjangan makanan antar daerah. DiAceh makanan melimpah, di Pare – pare persediaan makanan hanya cukup buat satu minggu lagi. (Ini hanya contoh saja, just an example). Kalo Zakat se-Indonesia sudah ada lembaga yang menanganinya, namanya Rumah Zakat Indonesia, maka gue pingin ada lembaga nasional juga yang mengatur pembagian Daging Kurban dan Aqiqah. Namanya mungkin, LPQAI (Lembaga Pengaturan Qurban dan Aqiqah Indonesia.. hahaha). Jadi kalo ada daerah yang tidak punya makanan, ada bantuan daging kurban untuk daerah yang minta tersebut. Berkah yang sangat luar biasa bukan ?????

spasi

Eh iya .. lupa. Kalo yang tidak haji potong kurban, maka yang haji wukuf di arafah. Saya lupa wukuf itu apa (males googling) yang jelas, ibadah haji lah .. ๐Ÿ˜€

* Tulisan ini dibuat dengan TextMaker di SUSELinux10.0,KDE. lantas diexsport ke wp. baru belajar sama pinguin nich ..*

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: